gina dan om om

Ben Esra telefonda seni bosaltmami ister misin?
Telefon Numaram: 00237 8000 92 32

Cowgirl

gina dan om omAngka menunjukkan angka 3 dan pintu lift pun terbuka. Gina keluar dari lift bersama dengan beberapa orang lainnya. Gadis cantik itu langsung bergegas menuju ke kamar yang disebutkan oleh Om Herdi ditelepon tadi. Sesampai di depan pintu kamar bertuliskan nomor 257, Gina mengetuk pintu tersebut beberapa kali namun sama sekali tidak ada jawaban. Begitu ketukan terakhirnya juga tidak mendapat respon, ia mencoba membuka pintu kamar tersebut. Rupanya pintu tersebut tidak terkunci dan gadis cantik itu pun dengan hati-hati masuk ke dalam kamar. Ruangan kamar itu memang terlihat kosong, namun sayup-sayup Gina bisa mendengar suara senandung dari kamar mandi. Agaknya Om Herdi sedang mandi, demikian pikir Gina sehingga akhirnya gadis cantik itu memutuskan untuk duduk di kursi dan menunggu. Tak lama setelah itu pintu kamar mandi terbuka dan muncullah sosok kurus berambut setengah putih. Laki-laki paruh baya yang kini hanya berbalut handuk putih sebatas pinggang itu pun tersenyum melihat Gina yang sedang duduk di kursi.“Sorry jadi bikin kamu menunggu, sudah lama cantik?”, Om Hendi mendekati Gina sambil tetap melanjutkan mengeringkan rambutnya dengan handuk yang lebih kecil.“Nggak kok Om, baru aja…”.Om Herdi lalu meletakkan handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya di atas meja. “Om kangen banget sama kamu lo hehehe…”.Laki-laki paruh baya itu lalu mengangkat tubuh Gina kemudian memeluknya. Ciuman lembut pun menyusul mendarat di bibir mungil Gina. Hanya dalam beberapa hitungan detik ciuman itu sudah berubah menjadi pagutan panas. Walaupun awalnya Gina terlihat agak kaku, namun akhirnya keduanya pun kini sudah terlihat mulai nyaman memainkan lidah mereka. Lidah mereka terus beradu dan membuat mereka saling bertukar liur. Tapi mereka seakan tidak peduli, apalagi Om Herdi yang sudah terlihat begitu bernafsu.“Oh maafin Om, kok Om jadi bernafsu gini ya?”, ucap Om Herdi selepas pagutan mereka berakhir.“Nggak… nggak apa-apa kok Om”.“Kamu mau mandi dulu?”.“Gina udah mandi kok tadi Om”, sahut Gina singkat. Gina terlihat cukup kaku berada di depan Om Herdi yang kini dalam keadaan hanya terbalut handuk. Kini baru Gina menyadari kalau ternyata laki-laki yang berada dihadapannya tersebut sudah cukup tua untuk layak menjadi ayahnya.“Pantesan wangi banget tubuhmu, kamu sudah makan cantik?”.“Sudah Om”.Sebagai seorang laki-laki berumur, Om Herdi terlihat pandai memainkan suasana. Ia bisa melihat kalau Gina masih terlihat tegang dan kaku, sehingga ia mencoba mencairkan suasana dan membuat sang gadis menjadi lebih rileks. Mencumbui gadis dalam keadaan tegang tentunya tidak akan terasa nikmat, karena itu laki-laki paruh baya itu menyadari akan pentingnya melakukan foreplay sebelum bercinta. Kemudian Om Herdi mengambil telapak tangan kanan Gina dan mulai menciumi jari-jari lentik gadis cantik itu. Ciuman itu terus menjalar naik ke tangan Gina.“Benar-benar lembut dan wangi, bisa kita mulai sekarang?”.Gina hanya mengangguk pelan.Om Herdi kemudian menarik lembut tangan Gina dan mengajaknya berjalan mendekati ranjang. Di depan ranjang laki-laki paruh baya itu memandang tajam ke arah wajah Gina. Disentuhnya pipi gadis cantik itu dan kemudian tangan itu menjalar menyusuri permukaan kulit Gina yang halus. Begitu sampai di leher sang gadis, tangan Om Herdi kemudian berpindah ke bibir untuk kemudian berakhir membelai rambut Gina yang panjang.“Kamu benar-benar cantik dan mempesona Gin”.Gina tidak memberikan respon apa-apa. Yang jelas sentuhan Om Herdi tadi cukup membuat sekujur tubuhnya merinding.“Aaah…”, Gina mendesah pelan ketika Om Herdi kembali memeluk tubuhnya dan mendaratkan pagutan di bibirnya.Sambil berpagutan panas tangan laki-laki paruh baya itu bergerak lincah membuka resleting jaket Gina. Hanya dalam beberapa detik jaket itu sudah terlepas dan teronggok di atas kursi. Kemudian tangan Om Herdi menuju sasaran berikutnya yaitu tank top pink yang dikenakan Gina. Masih dalam keadaan memagut bibir Gina, tangan laki-laki itu masuk ke dalam tank top dan mulai merabai payudara si gadis cantik. Rupanya bra yang dikenakan Gina hari itu terasa agak tebal sehingga Om Herdi merasa perlu untuk menggeser posisi cup bra tersebut. Setelah usahanya berhasil, kini permukaan telapak tangan Om Herdi bisa merasakan langsung kelembutan dan kepadatan payudara Gina. Si gadis cantik sendiri nampak mulai terangsang akibat pagutan dan remasan yang mendera bibir dan bukit kembarnya.“Oooh… Om…”, desah Gina pelan ketika Om Herdi sengaja memelintir puting payudaranya di balik tank top.Kemudian Om Herdi dengan cekatan mengangkat ujung tank top ketat sehingga akhirnya melewati kepala si gadis cantik. Sedetik kemudian tank top pink tersebut sudah teronggok menemani jaket Gina diatas kursi, sehingga kini tubuh atas Gina pun terlihat hanya tertutupi bra berwarna putih yang itupun cupnya sudah tidak lagi pada posisinya yang benar. Bra polos itu ternyata tidak lama melekat di tubuh Gina, karena tangan Om Herdi langsung bergerak menuju kaitannya. Kecekatan jari-jari tangan laki-laki paruh baya itu membuat sepotong pakaian dalam itu dengan mudahnya terlepas. Begitu bra tersebut terlepas, Gina langsung menyilangkan kedua tangannya guna menutupi kedua payudaranya. Walaupun perbuatan itu tidak ada gunanya toh laki-laki paruh baya dihadapannya itu sudah pernah melihat dan merasakan kekenyalannya, namun insting kewanitaan membuat Gina refleks melakukannya.“Hhhmm… katanya waktu ini 36 A? Yang ini kok 36 B? Hehe…”.Gina tersipu malu melihat Om Herdi dengan santainya mengacungkan nomor yang tertera pada pakaian dalam yang beberapa saat lalu masih melekat dan menutupi kedua payudaranya.“Iya kan jadi tambah gede waktu Om sedot terakhir hehe…”, jawab Gina genit.“Kamu itu benar-benar nakal dan menggemaskan! Om suka banget…”.“Aaoo… sakit Om!”, Gina berteriak ketika dengan iseng Om Herdi kembali memilin puting kirinya. Agaknya kekakuan Gina di awal tadi kini sudah hilang. Kini gadis cantik itu sudah mampu mengekspresikan daya tarik kewanitaannya.“Oh terlalu keras ya? Maaf deh , abis kamu tu nafsuin banget sih hehehe…”.“Oooh… Om…”.ReginaTubuh Gina langsung melenguh pasrah ketika dengan rakus Om Herdi melahap buah dada kanannya. Sementara itu payudara kiri sang gadis juga tak lepas dari remasan kuat tangan Om Herdi. Gina memejamkan matanya agar bisa lebih menikmati sensasi geli yang mulai menyerang sekujur tubuhnya. Ia juga menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan desahan akibat kuluman dan sapuan lidah Om Herdi yang menyerang kedua bukit kembarnya secara bergantian. Di permukaan payudara montok nan padat itu pun kini mulai bermunculan bercak-bercak merah ketika bibir laki-laki paruh baya itu menyodot semakin keras. Selain bercak-bercak merah, permukaan kulit halus itu juga sudah terlihat basah terkena air liur.“Ssrruup… sruuup… sruup…”, suara decakan pertemuan bibir Om Herdi dengan permukaan dada Gina semakin jelas terdengar.“Aaahh… oooh…”.Walaupun tengah menikmati permainan lidah Om Herdi, namun Gina tidak lupa untuk ikut mempersiapkan “senjata” laki-laki paruh baya itu agar segera siap tempur. Tangan kanan Gina menyusup ke dalam handuk yang membalut bagian bawah tubuh Om Herdi. Dengan lihai ia membuka gulungan handuk tersebut sehingga kain putih itu melorot turun. Om Herdi nampak terlalu sibuk menikmati kekenyalan payudara sang gadis cantik sampai-sampai tidak menyadari ketelanjangannya saat ini. Jari-jari lentik Gina pun mulai beraksi mengurut dan mengocok batang penis Om Herdi yang nampak sudah menegang. Batang penis yang baru beberapa hari lalu mengobrak-abrik selangkangannya.“Kamu benar-benar gadis yang sangat cantik Gin”.Om Herdi menegakkan kembali tubuh Gina dan mencium bibir mungil gadis cantik tersebut.“Om pasti akan kangen berat sama kamu…”.“Kangen Gina atau kangen ama yang lain Om? Hehehe…”, Gina tersenyum menggoda. Gen penggoda rupanya memang sudah mengalir di darah Gina, sehingga laki-laki manapun begitu mudah ditaklukkan olehnya. Agaknya Gina sadar kalau kelemahan laki-laki paruh baya seperti tipe Om Herdi ini adalah pada pujian dan godaan nakal. Dengan banyak memuji dan menggoda Gina berharap nantinya Om Herdi lebih royal lagi merogoh koceknya. Dengan begitu ia bisa segera mewujudkan impiannya dari hasil “kerja”nya hari ini. Sungguh sebuah bakat alam yang luar biasa.“Iya kangen sama kamu dong, juga sama yang ini…”.“Aaoo… iiih… Om genit…”, Gina mendesah ketika Om Herdi kembali dengan nakal mentoel puting payudaranya.Tubuh atas Gina yang memang sudah terbuka membuat tangan Om Herdi tak heni-hentinya bergerak usil barang sekedar mencolek, memilin atau merabanya. Sambil tangan kanannya merabai tubuh sintal Gina, tangan kiri Om Herdi mengocok-ngocok batang penisnya sendiri.“Sekarang buka celana kamu dan sepong kontol Om”.Gina menurut dan tangannya mulai bergerak membuka resleting celana jeans pendek yang dipakainya.“Jangan semuanya, tetap pakai celana dalammu!”.Kembali Gina hanya bisa menurut. Ia yang semula ingin melorotkan celana pendek berikut dengan celana dalam yang dipakainya pun membatalkan niatnya. Entah apa yang ada dipikiran Om Herdi, yang jelas bagi Gina toh segitiga mungil polos berwarna putih itu akan terlepas juga nantinya. Namun sebagai penjual jasa, Gina mengerti benar kalau konsumennya ini adalah raja dan ia harus menurutinya selama ia membayar dengan harga yang setimpal. Setelah meletakkan celana jeansnya di atas kursi, Gina kemudian mengambil posisi berjongkok di hadapan Om Herdi. Gadis cantik itu kemudian mengambil alih batang penis dalam genggaman laki-laki paruh baya tersebut. Berikutnya batang penis itu pun amblas ke dalam mulut mungil Gina.“Oooh…”, Om Herdi melenguh panjang ketika Gina mulai mengocok batang penisnya dengan menggunakan mulut.Sesekali Om Herdi memejamkan matanya mungkin menahan rasa nikmat akibat sepongan Gina. Sesekali pula laki-laki paruh baya itu mengelus-ngelus rambut Gina sambil ikut mengocok-ngocok batang penisnya sendiri ke dalam mulut sang gadis cantik. Sedangkan sang gadis cantik terlihat cukup gelagapan dengan kocokan penis tegang di dalam mulutnya dan berusaha untuk tidak tersedak dibuatnya.“Kita pindah ke kasur yuk cantik…”.Om Herdi kemudian mengangkat tubuh Gina yang terjongkok dan mengajaknya menuju ranjang. Laki-laki paruh baya itu lebih dahulu berbaring di ranjang, bursa escort sementara Gina masih berdiri di samping ranjang. Kemudian setelah Om Herdi memposisikan diri duduk di pinggir ranjang ia pun memberi isyarat kepada Gina untuk naik pula ke atas ranjang.“Sini dong cantik, lanjutkan yang tadi”.“Iya Om…”.Gadis cantik itu kemudian naik ke atas ranjang dan merangkak mendekati Om Herdi. Tanpa perlu diperintah lagi, Gina langsung mengambil batang penis laki-laki itu dan mulai mengocoknya kembali dengan jari-jari lentiknya. Kocokan itu lalu berganti menjadi kuluman dan lenguhan-lenguhan kecil pun kembali terdengar keluar dari mulut Om Herdi. Di tengah kuluman dan kocokan Gina, beberapa saat kegiatan itu berhenti karena Om Herdi harus mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Setelah sempat menarik nafas beberapa saat, Gina pun kembali melanjutkan service oralnya.“Om, jangan direkam dong Gina kan malu”, gadis cantik itu menghentikan kulumannya dan menutupi wajahnya. Rupanya ditengah aktifitasnya tadi Gina baru menyadari kalau Om Herdi telah mengaktifkan kamera ponsel miliknya dan merekam apa yang sedang dilakukannya. Gina kemudian memalingkan kepalanya ketika dengan jail Om Herdi mengarahkan ponsel tersebut ke wajahnya.“Cuma untuk koleksi pribadi kok cantik hehehe…”.“Jangan ah Om…”, Gina masih terus berusaha menutupi wajahnya walaupun kini Om Herdi sudah terlihat mengarahkan ponsel ke arah payudaranya.“Bentar aja kok, ayo dong dilanjutin lagi…”, sambil memegang ponsel dengan tangan kanan, Om Herdi menggunakan tangan kirinya untuk mengacung-acungkan batang penisnya yang sudah semakin tegang.Walaupun masih kesal dengan perbuatan Om Herdi yang masih asyik memain-mainkan kamera ponselnya, Gina terpaksa mengikuti kemauan laki-laki itu untuk melanjutkan permainan. Gadis cantik itu sadar bagaimanapun Om Herdi saat ini adalah konsumen pengguna jasanya, sehingga selama ia membayar dengan harga yang pantas maka ia memiliki hak untuk melakukan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Sambil kembali melanjutkan mengulum penis Om Herdi, Gina berusaha menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. Sementara itu Om Herdi sendiri hanya nampak tersenyum-seyum kecil melihat layar ponselnya yang mengabadikan momen indah serta bagian-bagian tubuh molek Gina.Tak lama setelah itu Om Herdi mengangkat kepala Gina sehingga kulumannya berhenti. Kemudian laki-laki paruh baya itu meremas-remas kedua payudara Gina dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mencari sudut pandang terbaik guna mengabadikan kedua bukit kembar sempurna tersebut. Gina sendiri terlihat sudah cuek dengan tingkah konsumennya tersebut karena baginya mungkin itu hanyalah salah satu bentuk fantasi nakal seorang laki-laki. Yang penting bagi Gina adalah wajahnya tidak ikut terekspos, walaupun tanpa disadarinya kalau tadi Om Herdi beberapa kali sempat secara sembunyi-sembunyi telah merekam wajah cantiknya.“Oh toketmu ini Gini bener-bener luar biasa montok!”, ucap Om Herdi sambil memainkan puting kanan Gina.“Aaoo…”, Gina hanya melenguh pelan.“Ini satu lagi yang Om suka”, kini tangan kiri Om Herdi yang berganti memegang ponsel, karena tangan kanannya kini merambah turun merabai selangkangan Gina. Walaupun daerah sensitif itu masih tertutup celana dalam, namun bahan yang sedemikian tipis membuat permukaan kulit tangan Om Herdi bisa merasakan bulu-bulu halus yang ada di baliknya.Gina sama sekali tidak protes ketika tangan Om Herdi memegang ujung celana dalamnya dan menariknya turun. Dengan santainya gadis cantik itu hanya merapikan rambut panjangnya sambil melihat ke arah Om Herdi yang sibuk merekam daerah selangkangannya yang semakin terbuka. Kini celana dalam mini putih Gina sudah bertengger di pahanya yang tertekuk. Sementara Om Herdi sendiri mulai nampak sibuk mengelus-elus permukaan lubang vagina sang gadis.“Rupanya kamu tipe cewek yang cepet basah ya? Hehehe…”.Gadis cantik itu hanya tersipu malu karena harus diakuinya kalau saat ini lubang vaginanya sudah mulai membanjir. Gina memang memiliki libido yang sangat tinggi, walaupun begitu ia bukan tipe wanita yang mau begitu saja mengobral tubuhnya kepada kekasih-kekasihnya. Mungkin sekedar petting Gina tidak akan keberatan memperlihatkan dan menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh sang kekasih, namun lebih dari itu Gina memiliki batasan dan kriteria sendiri. Terbukti dari sekian banyak laki-laki yang singgah di kehidupan Gina hanya dua kekasihnya yang pernah merasakan kehangatan tubuhnya, tanpa menghitung keberuntungan Om Herdi tentunya.“Hhmm… sungguh aroma yang memabukkan…”, Om Herdi menghirup dalam-dalam celana dalam Gina begitu kain mungil itu terlepas dari kaki sang gadis.Gina hanya bisa pasrah melihat kain penutup wilayah kewanitaannya itu dinikmati oleh hidung Om Herdi. Ia tidak terlalu heran melihat tingkah polah konsumennya tersebut, karena pada pertemuan pertama pun pakaian dalamnya mendapatkan perlakuan yang sama. Gadis cantik itu hanya bisa berharap semoga hari ini ia tidak perlu lagi kehilangan sepasang pakaian dalam seperti beberapa hari sebelumnya. Kini kain mungil tipis itu sudah tergeletak rapi di atas ranjang menemani bra miliknya yang sudah terlebih dahulu ada disana.“Oooh… wanginya masih seperti terakhir Om menciumnya!”, seru Om Herdi setelah mengendus selangkangan sang gadis.“Uuuhh… Om…”, Gina terlihat bergelinjang pelan ketika Om Herdi menyapukan lidahnya di permukaan lubang vaginanya. Selesai melakukan hal tersebut, laki-laki paruh baya itu mematikan kamera ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja,“Om… pelan-pelan… sakit!”.Gina berteriak lirik saat laki-laki paruh baya itu menusukkan jari tengah ke dalam lubang vaginanya. Memang setelah tadi Om Herdi membuka kedua pahanya lebar-lebar sekaligus mengelus-ngelus dan menjilati vaginanya, lubang surga itu terlihat semakin merekah dan basah. Apalagi ketika laki-laki itu mulai mengocok lubang tersebut dengan jari-jarinya kian membuat tubuh sang gadis bergelinjang, sedangkan kedua pahanya terlihat kian mengangkang lebar. Gina sendiri harus menggunakan kedua tangannya sebagai penopang tubuhnya yang terlihat mulai terbakar birahi. Om Herdi sendiri terlihat tersenyum kecil melihat perubahan yang terjadi pada bidadari kecilnya tersebut. Kini sang bidadari kecil sudah terkukung dalam dekapan nafsu yang panas.“Oooh… ooohh…aaakh…”, desahan pelan terus terdengar keluar dari mulut Gina. Lenguhan juga kerap terdengar apabila Om Herdi terlalu keras menghujamkan jari-jarinya.“Makin basah nih cantik hehehe…”, goda Om Herdi sambil terus menghujam-hujamkan jari-jarinya.“I… iya Om… oooh…”.“Udah pengen kontol nih kayaknya?”.“I… iya Om…”.“Mau kontolnya Om nggak? Hehe…”.“Mau Om…”.“Bener?”.“Bener Om… aaah…”.“Kalau gitu masukin dong kontolnya Om terus digoyang”.Setelah berkata demikian Om Herdi membaringkan tubuhnya di ranjang. Gina sendiri nampaknya mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh laki-laki paruh baya tersebut. Dengan berlahan Gina mengangkat tubuhnya dan berdiri mengangkang diatas tubuh Om Herdi. Kemudian dengan berlahan pula gadis cantik itu mengambil posisi berjongkok. Dengan menggunakan tangan kirinya Gina mengambil batang penis Om Herdi dan mulai mengarahkan ke lubang vaginanya, sedangkan tangan kanan ia gunakan sebagai penumpu.“Aaaakkhh…!!!”.Keduanya berteriak hampir berbarengan ketika Gina menurunkan pantatnya sehingga batang penis Om Herdi menghujam ke dalam lubang vaginanya. Cukup lama Gina membiarkan batang penis itu membenam di dalam vaginanya, agaknya gadis cantik itu memang menyukai ukuran penis Om Herdi yang besar dan berurat. Mungkin Gina merasa jika dibandingkan dengan penis milik kekasihnya, penis Om Herdi ini seakan-akan mampu memaksa lubang vaginanya terbuka lebih lebar. Gadis cantik itu lalu menumpukan kedua tangannya di dada Om Herdi dan mulai menggoyangkan pinggulnya.“Oooh… gila Gin… memekmu… aaaahh…!!”, Om Herdi merancau hebat. Jepitan dinding vagina gadis cantik itu terasa menjepit kuat batang penisnya.“Oooh… Oooh… Oooh…”, Gina pun mendesah tak kalah hebat. Penis kokoh Om Herdi terasa begitu liar mengaduk-ngaduk lubang vaginanya ketika ia bergoyang.Dalam posisi woman on top seperti ini Gina nampak benar-benar bisa menguasai permainan. Ia terlihat mampu memaksimalkan jepitan lubang vaginanya demi memberikan kepuasan dan kenikmatan bagi pelanggannya tersebut. Walaupun ini adalah baru kali kedua ia menjual diri, namun gadis cantik itu terlihat sudah sangat berpengalaman memuaskan laki-laki langganannya di atas ranjang. Selain ia sendiri memang sangat menikmati adukan penis Om Herdi di dalam vaginannya, sehingga ia sama sekali tidak perlu berpura-pura untuk mengekspresikannya.“Om suka nggak?”, Gina tersenyum melihat ekspresi wajah Om Herdi yang terlihat merem-melek penuh kenikmatan.“Su… suka banget cantik… goyang terus sayang… goyang terus!”.Gina semakin mengencangkan goyangannya. Pinggul ramping gina terlihat begitu lincah bergoyang di atas tubuh Om Herdi. Goyangan itu terus berlangsung sampai akhirnya Om Herdi menghentikannya. Laki-laki paruh baya itu membalikkan tubuhnya sehingga kini Gina-lah yang terbaring di atas ranjang. Kemudian Om Herdi ikut berbaring di sampingnya samping mengelus-elus rambut dan wajah gadis cantik itu.“Cantik, Om boleh nanya nggak?”.“Nanya apa Om?”.“Kamu pernah ngelakuin anal nggak ama pacar kamu?”.“Blom Om…”.“Artinya pantat kamu masih perawan dong?”.Gina tidak menjawab. Ia agaknya tahu arah pembicaraan Om Herdi ini. Sebuah pembicaraan yang membuat bulu kuduknya berdiri.Karena tidak mendapatkan jawaban, Om Herdi kembali melanjutkan kata-katanya, “Kenapa? Kamu tidak suka anal ya cantik?”.Gina kembali tidak menjawab. Gadis canik itu terlihat bingung harus memberikan jawaban apa. Namun beberapa saat kemudian ia terpaksa harus menganggukkan kepalanya pelan.“Takut sakit ya?”.Anggukan kepala kembali menjadi jawaban Gina.“Bagaimana kalau Om tambahin bayaran kamu dua kali lipat, kamu mau nggak ngasi Om buat nyoba lubang kamu yang satu itu?”.Gina tetap belum bisa memberikan jawaban. Tidak terbayang dalam benaknya akan membiarkan sebuah penis menghujam ke dalam lubang duburnya. Bagaimanapun menurutnya persetubuhan melalui lubang dubur bukanlah sebuah persetubuhan normal.“Bagaimana kalau tiga kali lipat? Kamu mau?”, lanjut Om Herdi karena melihat Gina bursa escort bayan yang masih diam membisu.“Ti… tiga kali lipat Om?”, akhirnya kata-kata meluncur juga keluar dari mulut Gina.“Iya tiga kali lipat, bagaimana?”.Kembali Gina terdiam. Kalau benar Om Herdi membayarnya tiga kali lipat dari tarif yang dibayarkannya beberapa hari lalu, maka keinginannya untuk memiliki ponsel baru akan segera terwujud. Bahkan jumlah itu akan sangat berlebih sehingga mungkin ia tidak perlu untuk menjual diri lagi. Namun sejumlah uang itu tentu harus dibayarnya dengan memenuhi permintaan Om Herdi tadi. Sebuah permintaan yang begitu berat untuk dipenuhi. Permintaan yang tak pernah ia bayangkan untuk lakukan sebelumnya. Membiarkan sebuah penis menghujam ke dalam lubang duburnya juga tentu berarti merelakan keperawanan terakhirnya yang masih tersisa.“Om tidak akan memaksa kamu cantik, kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa kok?”, ucap Om Herdi penuh kebapakan sambil membelai rambut panjang Gina.“Gin… Gina mau kok Om…”.“Oh… kamu yakin?”, Om Herdi tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Gina tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya.Om Herdi kemudian beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari pakaian. Gina hanya bisa menatap ke arah laki-laki tersebut dan bertanya-tanya apa gerangan yang akan dilakukannya. Tak lama terlihat kalau laki-laki itu mengambil sebuah botol kecil yang entah apa isi didalamnya. Masih dalam keadaan telanjang bulat dan dengan batang penis mengacung tegak, Om Herdi kembali berjalan menuju ranjang. Sejenak ia tersenyum ke arah Gina. Laki-laki itu terlihat begitu terpesona melihat keadaan Gina yang terbaring bugil di atas ranjang. Ia pun kemudian beranjak naik ke atas ranjang.“Ayo kita mulai cantik hehehe”.Om Herdi membaringkan kembali tubuh Gina di ranjang. Gadis cantik itu sendiri hanya bisa pasrah karena toh ia tadi sudah memberikan persetujuannya. Kini ia hanya bisa berharap semuanya berjalan cepat dan tidak menyakitkan. Tanpa dikehendaki Gina, kini tubuhnya secara refleks terasa bergidik hebat. Om Herdi kini kembali membuka lebar kedua paha Gina.“Ini Om oleskan biar nanti nggak kerasa sakit”, Om Herdi menuangkan isi botol kecil tersebut ke tangan kirinya. “Ini adalah pelumas, nggak bakal memberikan efek apa-apa kok”, sambungnya lagi. Dengan berlahan laki-laki itu kemudian mengoleskan cairan itu di selangkangan Gina berikut dengan pantat dan lubang duburnya.“Sssshh…”, Gina mendesah pelan. Ia merasakan rasa dingin yang sangat menyengat ketika cairan kental itu menyentuh permukaan selangkangannya.“Tahan sebentar ya, Om bakal masukin cairan ini sedikit ke dalam…”.“Aaakkhh… Om…”.Segera setelah itu Gina merasakan jari Om Herdi menyeruak masuk ke dalam lubang pantatnya. Rasa dingin bercampur sedikit rasa sakit kian terasa begitu kuat ketika jari tangan tersebut bergerak berputar-putar. Desahan-desahan pelan terus terdengar keluar dari mulut Gina.“OK sudah, sekarang siap-siap, mungkin ini akan terasa sedikit sakit di awal”.“Pelan-pelan Om…”, desah Gina.“Iya cantik…”.Tak lama Gina bisa merasakan ujung penis Om Herdi mulai menggesek-gesek permukaan pantatnya. Lalu ujung penis itu kemudian dirasakannya mulai menari-nari di permukaan lubang duburnya. Gina memejamkan matanya dan menggenggam sprei ranjang kuat-kuat. Gadis cantik itu seakan-akan tahu kalau sebentar lagi rasa sakit yang teramat sangat pasti akan menyerang sekujur tubuhnya. Dan…“Aaaaakkkhhh…!!!”.Teriakan kencang memenuhi seluruh penjuru ruangan ketika batang penis Om Herdi telah sepenuhnya terbenam di dalam lubang dubur Gina. Detik itu juga gadis cantik itu merasakan rasa perih menyerang seluruh simpul syarafnya secara simultan. Rasa perih ini bahkan melebihi rasa perih ketika ia diperawani dulu. Gina seakan merasakan lubang pantatnya membuka dengan paksa akibat batang besar yang kini bersarang di dalamnya. Ia merasakan lubang pembuangannya tersebut seakan-akan robek dengan paksa.“Aaaakkh… Om… aaakkh… sakiiit…”.“Ditahan sayang…!”.Om Herdi mulai mengocok batang penisnya, sehingga permukaan batang penisnya kini mulai bergesekan dengan permukaan lubang dubur Gina.“Om…!!”, lenguh Gina. Tubuh gadis cantik itu bergelinjang hebat menahan rasa perih yang semakin menjadi mendera lubang pantatnya. Cengkeraman tangan Gina terlihat semakin kuat meremas sprei. Kocokan penis Om Herdi yang semakin kencang di lubang duburnya benar-benar menguras tenaganya. Tenaga untuk berteriak, tenaga untuk menahan sakit dan tenaga untuk bertahan tetap tersadar. Bagaimanapun semua ini adalah hal yang baru bagi Gina dan hal baru terkadang memang sedikit menyakitkan di awal, namun untuk kali ini rasa sakit sepertinya tidak akan hilang dalam jangka waktu dekat.“Aaakkh… ooohh… aaakkh…!!”.“Oh Gin, sempit banget…!!”.“Om… sa… sakit…!!”, tubuh Gina semakin bergelinjang hebat. Mata gadis cantik itu terpejam dan beberapa bulir air mata terlihat mengalir dari ujung matanya.Bertolak belakang dengan keadaan Gina, Om Herdi terlihat begitu menikmati kocokannya ke dalam dubur gadis cantik tersebut. Bagaimana tidak, pantat sang gadis yang beberapa saat lalu masih original tentunya terasa begitu keset dan sempit. Sebenarnya vagina Gina juga memberikan sensasi kenikmatan yang tak kalah luar biasa, namun sebagai seorang petualang cinta Om Herdi tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Menikmati dubur perawan seorang remaja yang cantik jelita. Jauh di dalam hati Om Herdi ia sangat bangga menjadi laki-laki pertama yang menikmati kenikmatan lubang “alternatif” milik Gina.“Oooh… seket banget pantat lu perek!! Nggak sia-sia gue ngeluarin duit banyak!!”.Kata-kata umpatan mulai keluar dari mulut Om Herdi. Seperti pertemuan pertama, kata-kata umpatan dan makian itu adalah tanda birahi sang laki-laki mulai meninggi. Gina sendiri sudah tidak mampu lagi memperhatikan kata-kata umpatan tersebut. Bahkan ia sudah tidak mampu lagi menelaah apa yang sedang terjadi. Yang ada padanya kini hanyalah rasa sakit dan perjuangan untuk tetap tersadar.“Aaakkh… ooohh… aaakkh…!!”.“Aaakkh… ooohh… aaakkh…!!”.Cukup lama Om Herdi memompa dubur Gina sebelum akhirnya laki-laki itu menarik batang penisnya. Namun belum sempat Gina menarik nafas lega, Om Herdi dengan cepat membalikkan tubuhnya hingga tertelungkup. Dengan cepat Om Herdi kembali menghujamkan batang penisnya ke dalam pantat Gina. Kali ini laki-laki paruh baya itu terlihat menindih tubuh telungkup Gina sambil terus menyetubuhinya dengan ganas. Ia terlihat sama sekali tidak peduli dengan keadaan Gina yang sudah terlihat lemah tanpa tenaga.“Rasain nih lonte!! Gue obrak-abrik pantat lu!!”“Aaakkh… aaakhh…”, teriakan Gina yang semula kencang kini terdengar lebih menyerupai rintihan. Gadis cantik itu seakan-akan tidak mampu lagi untuk berteriak. Tenaganya sudah terlalu lemah untuk mengekspresikan rasa sakitnya. Kini yang bisa ia lakukan hanya pasrah menerima lesakan demi lesakan kasar penis Om Herdi di duburnya.“Oooh… gila… gila banget… ooohh…”, rancau Om Herdi.“Oooh… ooh… ooohh…!!”.“Oooh… ooh… ooohh…!!”.Rancauan, teriakan dan desahan penuh kenikmatan dari Om Herdi terus terdengar memenuhi penjuru kamar, menandakan sebentar lagi ia akan mencapai puncak tertinggi. Sedangkan Gina masih terlihat tergeletak pasrah. Walaupun rasa sakit sudah mulai berkurang dirasakannya, namun ia sama sekali tidak terlihat menikmati persetubuhannya kali ini. Pikiran yang menerawang entah kemana ditambah dengan pandangan yang mulai berkunang-kunang membuat ia tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Ia terlihat seperti boneka yang pasrah menerima perlakuan apa pun dari pemiliknya. Hal ini jelas sekali berbeda dengan yang dirasakan Om Herdi saat ini.“Oooh… gue nyampe nih!! Gila jepitannya pantat lu perek!!”“Aaaahh… nikmat banget!!!”.“Jleeep… jleeeep… jllleeep…!!”, Om Herdi semakin kencang menggenjot lubang pantat Gina. Hal ini membuat tubuh mereka berdua berguncang-guncang hebat di atas ranjang. Kondisi ranjang pun sudah tidak karuan lagi karena cengkraman tangan Gina membuat kondisi kain spreinya menjadi amburadul.“Aaaahh…. ooohhh….”, lenguhan panjang terdengar keluar dari mulut Om Herdi. Kepala laki-laki itu terlihat mendongak dengan mata terpejam. Terlihat sekali ekspresi kepuasan terpancang dari wajah tuanya.“Crooott… crooot… crooot…!!”.“Crooott… crooot… crooot…!!”.Sementara itu seiring lenguhan panjang Om Herdi, cairan spermanya menyembur kencang ke dalam lubang dubur Gina. Walaupun dalam keadaan lemas, Gina bisa merasakan kalau cairan yang menyembur sangatlah banyak dan deras. Mungkin Om Herdi benar-benar merasakan kepuasan maksimal sehingga mencapai klimaks yang luar biasa. Walaupun semburan terakhir sudah selesai dikeluarkan, namun Om Herdi nampak enggan menarik batang penisnya sehingga batang tegang itu mengendur di dalam lubang dubur Gina. Setelah batang penisnya mengecil barulah laki-laki paruh baya itu menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Gina. Nafasnya terlihat memburu ketika tubuhnya terlentang di atas ranjang. Sedangkan tubuh Gina masih terlihat tergolek lemah seperti tadi tanpa ada gerakan sama sekali. Hanya sisa cairan kental berwarna putih yang terlihat sedikit meleleh keluar dari lubang duburnya.“Hooos… hooos… hoos…”, nafas Om Herdi yang sudah mulai teratur terdengar mengisi kesunyian ruangan kamar. Selain itu hampir tidak terdengar suara apa-apa lagi. Kesunyian itu pun pecah ketika terdengar suara ketukan dari luar pintu.“Took… took… took…”.Mendengar suara ketukan itu dengan agak berat Om Herdi mengangkat tubuhnya dan mencoba beranjak menuruni ranjang.“Took… took… took…”.Ketukan kedua terdengar setelah Om Herdi sudah berhasil berdiri di pinggir ranjang. Senyuman kecil tersungging di bibir laki-laki itu melihat tubuh bugil Gina di atas ranjang, sebuah tubuh yang begitu indah dan sempurna. Om Herdi kemudian mengambil sebuah kimono putih dari atas kursi dan memakainya guna menutupi ketelanjangannya. Laki-laki itu kemudian berjalan pelan menuju pintu.Ketika pintu dibuka ternyata di balik pintu berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek. Laki-laki itu juga terlihat sudah cukup berumur bahkan terlihat sedikit lebih tua jika dibandingkan dengan Om Herdi. Hanya saja rambutnya belum memutih seperti rambut Om Herdi. Laki-laki itu adalah Maman, sopir Om Herdi. Maman berasal dari kampung dimana Om Herdi berasal. Karena laki-laki itu escort bursa sempat diberhentikan dari tempat kerjanya sebagai sopir truk, maka Om Herdi mengajaknya bekerja di kota. Sudah hampir dua tahun laki-laki tua itu mengabdi kepada Om Herdi sebagai sopir pribadi.“Ada apa Man?”.“Nggak apa-apa sih bos, cuma mau ngingetin kalo sebelum ke bandara bos masih harus mampir dulu ke kantor Pak Joko, jadi sepertinya bos harus segera berangkat kalau tidak mau ketinggalan pesawat”.“Oh hampir gue lupa, ya sudah kalau begitu gue mandi dulu habis itu kita langsung check out”.Maman terlihat tidak terlalu berkonsentrasi mendengar perkataan bosnya tersebut. Matanya terlihat menatap nanar ke arah tubuh Gina yang tergolek di atas ranjang. Matanya bisa melihat bagaimana mulusnya kedua paha dan bagaimana montoknya pantat gadis cantik tersebut. Terlihat begitu segar dan menggiurkan. Ketika pertama kali diminta untuk berbicara dengan Gina, Maman memang sudah terpesona dengan kecantikan gadis remaja tersebut. Ia benar-benar memuji selera bosnya saat itu. Terlihat untuk sesaat laki-laki tua itu menelan ludahnya.“Eehhemm…!”.Deheman Om Herdi seketika itu pula memecahkan pikiran mesum Maman.“Eh… maaf bos, kenapa tadi?”.“Makanya jangan ngelanjor mulu! Netes tuh liur hahaha…”.“Ah bos bisa aja, siapa coba yang nggak ngiler liat yang bening-bening kayak gituan hehehe…”, wajah Maman terlihat memerah menahan malu. Ia terlihat cukup kagok dipergoki seperti itu. Sambil menggaruk-garuk kepalanya ia hanya bisa cengengesan.“Lu mau tu cewek?”.“Kalo dikasi yang jelas maulah bos, saya kan masih normal hehehe…”.“Ya udah, lu garap aja dulu tuh sambil nunggu gue mandi”.“Serius bos?”, mata Maman terbelalak mendengar perkataan Om Herdi tadi.“Seriuslah, lu mau nggak?”.“Mau bos… mau banget…!”.Memang hubungan antara Om Herdi dengan sopirnya Maman sudah sangat dekat. Maka tak heran kalau mereka berdua saling menyapa dengan sapaan santai “lu gue”, walaupun hubungan mereka adalah atasan dan bawahan. Apapun kebiasaan Om Herdi sudah diketahui oleh Maman, termasuk hobby bosnya ini mem-booking gadis-gadis cantik, namun baru kali ini ia ditawari untuk menikmati tubuh salah satu gadis bookingan bosnya tersebut. Ini pastilah hari keberuntungan Maman.“Tapi inget, kejadian ini jangan sampai lu bocorin ke nyonya, OK?”.“Iyalah bos, kapan sih saya pernah ngecewain bos hehehe…”.“Ya udah sana, inget jangan lama-lama, abis gue mandi kita langsung berangkat”.Senyum sumringah langsung terpancar di wajah tua Maman. Setelah bosnya beranjak menuju kamar mandi Maman pun masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan menguncinya. Ekspresi mesum tergambar jelas pula di wajah Maman. Ia kini terlihat seperti seekor serigala yang melihat seekor domba yang siap di santap. Tak lama setelah terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi bergegas Maman membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. Terlihat batang penis laki-laki itu sudah mengacung tegak. Mungkin sejak di pintu tadi nafsu birahi Maman sudah bergelora melihat tubuh Gina yang tergolek di ranjang.“Mimpi apa gue semalem hehehe…”, dalam hati Maman bergumam.Dengan berlahan laki-laki tua itu mendekati ranjang dan mulai naik ke atas ranjang. Sama sekali tidak ada gerakan dari Gina walaupun Maman mulai merabai paha dan kakinya yang jenjang.“Busyet! Mulus banget nih cewek…”, kembali Maman berguman dalam hati.Tangan Maman terus merabai tubuh polos Gina. Kini tangannya mulai meremas-remas bongkahan pantat sang gadis. Laki-laki tua itu bisa melihat cairan sperma masih sedikit menetes dari lubang pantat Gina. Ia pun tersenyum dan bisa memperkirakan apa yang bosnya lakukan tadi terhadap gadis cantik di hadapannya itu. Kemudian dengan perlahan Maman membalikkan tubuh Gina. Mata gadis cantik itu nampak terpejam dan masih belum ada tanda-tanda perlawanan darinya, padahal kini dengan nakal tangan Maman sudah mulai beraksi meremas-remas payudara montok berikut dengan putingnya. Kembali Maman tersenyum melihat bercak-bercak merah di permukaan bukit kembar Gina.“Oohh…”, Maman mendesah pelan sambil mengocok-ngocok batang penisnya sendiri saat tangan kanannya mendarat di bulu-bulu selangkangan Gina. Sadar kalau waktunya tidak banyak, dengan segera saja Maman menindih tubuh Gina dan mulai mencium dan mengulum kedua payudara milik sang gadis.“Sruuup… srruuup… ssruup…”.“Aaakkh…!!”.Gina berteriak cukup keras karena merasakan sakit di puting payudara kanannya. Rupanya Maman tadi sempat terlalu keras menggigit putingnya sehingga membuat kesadaran Gina langsung bangkit. Dengan segera gadis cantik itu membuka matanya dan saat itu pulalah ia menyadari kalau laki-laki yang kini berada diatas tubuhnya bukanlah Om Herdi.“Lepasin… lepasin gue…!!”.“Tenang Non… saya sudah dapet ijin kok ngentotin Non hahaha…”.“Jangan… jangan… tidak…!!”.“Jangan ngelawan Non, nanti malah rugi sendiri… dikasi enak kok malah ngamuk hahaha…”.Gina meronta-meronta dengan segala tenaga yang masih tersisa di tubuhnya. Namun nampaknya usahanya itu sia-sia belaka karena Maman terlalu kuat untuk ia lawan. Walaupun sudah cukup berumur agaknya gairah yang sudah terlanjur memuncak membuat tenaga Maman menjadi berlipat-lipat untuk menahan tubuh Gina yang terus meronta dan menendang-nendang. Malah kini dengan kasar Maman membuka dan mengangkat kedua kaki Gina ke atas pundaknya. Tanpa peringatan apa-apa langsung saja laki-laki tua itu menghujamkan batang penisnya ke dalam vagina sang gadis cantik.“Aaaakkkh…!!”.Kembali Gina hanya bisa berteriak lantang. Belum hilang rasa perih pada lubang duburnya, kini sebuah penis besar menghujam deras ke dalam lubang vaginanya tanpa pemanasan. Lubang surga itu masih dalam keadaan kering ketika Maman mulai menggenjotnya dengan ganas. Gina pun tidak bisa melawan lagi karena kini tenaganya sudah benar-benar habis. Yang kini ia bisa lakukan hanya pasrah menahan rasa sakit ketika batang penis milik Maman mengoyak-ngoyak vaginanya.“Oooh… memek perek kayak Non ternyata masih keset banget ya! Nggak nyangka ooohh…!”, teriak Maman di tengah genjotannya.“Aduh… sakit! Aaakkh…”.Kepala Gina nampak menggeleng-geleng dan tubuhnya pun terus bergelinjang. Hari ini agaknya benar-benar adalah hari sial bagi Gina karena selain kekacauan yang dialaminya di sekolah, kini ia harus mengalami dua kali persetubuhan yang sama sekali tidak bisa ia nikmati. Kini sudah dua penis mengisi kedua lubang miliknya, namun tak satupun yang memberikannya kenikmatan. Yang ada hanya rasa sakit yang begitu menyiksa. Walaupun begitu paling tidak Gina bisa bersyukur laki-laki yang kini menyetubuhinya ini tidak lagi mengoyak lubang duburnya yang masih terasa sakit. Hari ini Gina lebih merasa sedang diperkosa ketimbang sedang disetubuhi. Sama sekali dalam hidupnya ia tidak pernah disetubuhi dengan cara sekasar ini.“Ooooh… memek ABG memang legit! Ooohh… enak tenan!!”, Maman terus menggenjot vagina gadis cantik tersebut, malah kini dengan kecepatan yang terhitung cukup keterlaluan.“Aaahh…. Aaahh…. oooh….”.“Oooohh… oooh…. ooohh….”.Desahan, lenguhan dan teriakan kembali memenuhi seluruh ruangan kamar. Bedanya, kalau teriakan Maman adalah teriakan penuh kenikmatan dan nafsu, sedangkan teriakan Gina adalah teriakan penuh siksaan dan keterpaksaan.Beberapa menit sudah lubang vagina Gina tergenjot dengan ganas. Cairan cinta mulai terlihat membasahi lubang surga tersebut. Sungguh aneh! Berlahan rasa sakit dan perih yang semula dirasakan Gina kini mulai berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa. Cara Maman menyetubuhinya dengan kasar kini seakan-akan membawa sensasi luar biasa bagi Gina. Syaraf-syaraf otaknya benar-benar menikmati sensasi “perkosaan” ini. Mendadak tenaga yang semula habis kini muncul kembali untuk berteriak, bergelinjang dan bergoyang. Kini teriakan kedua insan berbeda dunia itu mulai terdengar seirama. Teriakan penuh kenikmatan dan gelora birahi.“Ooohh… perek tetep aja perek! Sok jual mahal diawal tapi ujung-ujungnya konak juga hahaha…”, ucap Maman melihat perubahan ekspresi Gina.“Ooooh… oooh….”.“Enak kan kontol gue perek kecil? Hahaha…”.Tanpa disadari oleh Maman maupun Gina, ternyata Om Herdi sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan kimono. Laki-laki paruh baya itu hanya tersenyum kecil melihat sopirnya tersebut menggenjoti Gina dengan penuh semangat.“Gimana Man, mantap kan jepitannya? Hehehe…”.“Iya Bos, mantep surantep banget! Maknyus pisan…”.Dengan santainya Om Herdi kemudian beranjak menuju lemari pakaiannya dan mulai mengambil satu persatu pakaian yang akan dia kenakan. Laki-laki itu bertingkah seolah-olah di atas ranjang tidak terjadi apa-apa, padahal jelas-jelas suara teriakan Maman dan Gina terdengar begitu keras di seluruh penjuru kamar.“Ayo Non… teriak yang keras, biar gue jadi makin semangat hehehe…”.“Aaahhh… Pak….”.“Kenapa perek? Nggak kuat? Nggak kuat nahan kontol gede gue? Hehehe…”, kata-kata Maman penuh dengan ejekan dan hujatan. Namun anehnya kata-kata itu membuat Gina semakin bergairah. Entah akal sehatnya sudah benar-benar hilang atau memang kini dirinya sudah menjelma menjadi seorang gadis yang haus seks.“Ooooh… tidak… aaaaaakkkh….!!”.Tubuh Gina melengkung naik. Mulutnya terbuka lebar dan terdengar teriakan panjang. Rupanya gadis cantik itu mencapai orgasme berkat permainan kasar dan ganas Maman. Sebuah orgasme yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Gina sendiri tidak tahu kenapa seorang laki-laki rendahan seperti Maman bisa memberikannya orgasme yang sedemikian dasyat.“Wih… ngencret juga nih si Non hahaha…”.Dengan segera Maman mempercepat genjotannya. Ia memang tadi sempat melirik ke arah bosnya yang terlihat sudah selesai mengenakan pakaiannya. Artinya waktunya sudah semakin menipis. Kembali dengan ganas Maman memompa vagina gadis cantik itu tanpa memperdulikan kalau Gina kini sudah kembali tergeletak pasrah.“Oooohh… Oooohhh… Oooohh….!!”.“Aaaaakkh….!!!”, akhirnya beberapa menit kemudian lenguhan panjang terdengar keluar dari mulut Maman. Jepitan lubang surga Gina membuat Maman terlena sehingga tak sempat menarik keluar batang penisnya.“Crooot… croooot… croooot….!!”.Semburan cairan putih pun menyembur deras ke dalam lubang vagina Gina. Setelah beberapa semburan barulah Maman bisa menarik batang penisnya sehingga sisa cairan putih itu mendarat deras di perut dan dada Gina. Setelah semprotan terakhir Maman mengoles-oleskan ujung penisnya di paha Gina guna membersihkan sisa sperma yang ada. Setelah itu dengan segera ia turun dari ranjang dan membiarkan Gina tergolek dengan tubuh belepotan penuh cairan sperma.“Gimana? Puas lu?”.“Puas banget bos hehehe…”.

Ben Esra telefonda seni bosaltmami ister misin?
Telefon Numaram: 00237 8000 92 32

Bir cevap yazın